Pelayanan Terapi Terpadu

Ada begitu banyak macam terapi yang diberikan kepada anak–anak berkebutuhan khusus, PSNC mememiliki 6 jenis terapi yang menunjang kebutuhan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yaitu :

I. Terapi Okupasi & Sensori Integrasi

Terapi sensory integration (SI) dikembangkan oleh DR.Ayres, seorang terapis okupasi dengan latar belakang Psikologi. Perkembangan sensori motorik dimulai sejak anak usia 0 sampai 5 tahun 6 bulan. Sejak dilahirkan, telah terjadi perkembanagn sensorimotorik yang berasal dari refleks luhur (gerakan refleks) kita yang secara bertahap beralih menjadi gerak yang disadari (gerakan motorik), hingga akhirnya system pancaindralah yang mengatur gerakan (gerakan refleks protektif) serta memberikan informasi kepada semua gerakan yang harus kita lakukan dengan tepat tanpa perlu banyak berpikir.

Sensory Integrasi merupakan metode yang memproses neurologikal     yang normal di mana kita mengatur sensasi-sensasi sekitar kita untuk digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari agar bisa “survive”, belajar dan berfungsi.

Okupasi terapi merupakan profesi yang membantu anak penyandang dalam bidang produktifitas yaitu belajar, self care seperti kemandirian dan leisure.

Terapi Okupasi adalah terapi untuk meningkatkan okupasional seseorang: dalam hal ini mencakup aktifitas keseharian seperti menulis, keterampilan tangan, belakar di kelas, bersosialisai, berpakaian, rawat diri, bermain, memanjat. berayun, melompat, mengemukakan ide, menyusun tugas, dan sebagainya.

Untuk melakukan okupasional tersebut diperlukan koordinasi gerak, atensi dan konsentrasi, kekuatan, otot, keseimbangan. kemampuan berinteraksi sesial, reflex, kendali diri, dan sebagainya. Peran Terapi Okupasi adalah membantu menungkatkan kemampuan tersebut diatas melalui aktifitas terapeutik yang sesuai dengan program terapi anak sehingga dapat melakukan aktifitas keseharian dengan mandiri.

Tujuan Terapi

Tujuan terapi SI adalah untuk meningkatkan kesadaran sensoris dan kemampuan merespon terhadap stimulus serta melatih kemampuan motorik kasar anak. Terapi SI sangat berhubungan dengan masalah okupasi dan fisio oleh karena itu biasanya ketiga terapi ini dapat dilakukan secara bersamaan.

Terapi Okupasi atau terapi fisik dibutuhkan karena biasanya anak – anak dengan kebutuhan khusus ini mengalami gangguan dalam perkembangan motorik kasarnya, tonus otot – otot dari anak autis biasanya kurang kuat sehingga dapat membuat kurang nya keseimbangan si anak dalam berjalan.

Sasaran Terapi

Anak mengalami patologis anak seperti :

  • Gangguan fisik
  • Cerebral Palsy
  • Deleayed Developmental
  • Spina Bifida
  • SID (sensory Integration Disorder)
  • PDD
  • Obsesiv Conpulsive Disorder (OCD)
  • Fetal Alkohol Syndrome (FAS)

Kognitif:

  • Mental Retardasi
  • Autisme
  •  AD/HD
  • Delayed Speech
  • Learning Dificulties
  • Dll

 

II. Terapi ABA

ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian dan didesain khusus untuk anak autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya.

ABA sering dikenal juga sebagai metode Lovaas (diambil dari nama penemunya yaitu seorang psikolog dari Amerika O.Ivar Lovaas PhD) telah berkembang dan popular di Indonesia kurang lebih tahun 1997. Tapi Lovaas sendiri mulai melakukan penelitian sejak tahun 1964 terhadap kelompok anak disebuah institusi dengan pengajaran khusus.

Awalnya penanganan yang dilakukan Lovaas cenderung kurang memuaskan karena penanganannya dilakukan di institusi dan tidak melibatkan orang tua, akhirnya Lovaas pun melakukan penelitian kembali pada tahun 1987 bersama tim nya dia meneliti 19 anak autistik selama kurang lebih 2 tahun, dalam bentuk 40 jam pengajaran perminggu satu guru satu anak (one on one teaching) di rumah, di sekolah dan dilingkungannya.

Kelompok kontrol adalah 21 anak dengan penanganan yang berbeda. Semua anak diterapi sebelum usia 4 tahun, dan semua didiagnosa sebagai anak dengan autistime. Ketika anak tersebut berusia 6 tahun ditemukan bahwa dari 19 anak yang diterapi dengan ABA, 9 diantaranya (47%) bisa bergabung di sekolah umum, 8 lainnya (42%) bersekolah disekolah khusus dan sisanya bersekolah disekolah tuna grahita (Maurice,1996).

Tujuan Terapi

Tujuan utama penanganan memang untuk mengurangi perilaku yang berlebih atau tidak wajar dan mengajarkan perilaku yang bisa lebih di terima lingkungan (meminimalkan kegagalan dan memaksimalkan keberhasilan anak). Perilaku yang kurang baik tadi tergantikan oleh perilaku yang lebih baik.

Tetapi sebenarnya yang ingin dipacu dalam intervensi ini adalah peningkatan pemahaman dan kepatuhan akan aturan. Tujuan dari terapi perilaku adalah memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan perilaku yang baik agar menjadi manusia yang fungsional.

Semakin anak memahami berbagai hal disekitarnya, semakin bisa mereka melakukan berbagai hal dan mengejar berbagai ketertinggalannya. Semakin patuh anak akan aturan yang berlaku bagi anak seusianya, semakin ia bisa diharapkan dapat lebih membaur dalam kehidupan masyarakat luas.

Sasaran Terapi

Anak – anak berkebutuhan khusus yang memerlukan terapi ABA / terapi perilaku adalah :

-  Autism Spectrum Disorder

  • High Function
  • Low Function

 

III. Terapi Wicara

Terapi Wicara adalah ilmu yang mempelajari perilaku komunikasi yang normal dan abnormal, yang digunakan untuk memberikan terapi (proses penyembuhan) pada klien yang mengalami gangguan perilaku komunikasi yg meliputi kemampuan bahasa, bicara, suara, irama kelancaran. Sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar, tidak mengalami gangguan psiko-sosial serta mampu meningkatkan hidup dengan optimal.

Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistime yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu menggunakan kemammpuan bahasanya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

Tujuan Terapi

Terapi wicara diberikan kepada mereka yang mengalami gangguan komunikasi termasuk didalamnya adalah gangguan berbahasa, bicara, dan gangguan menelan.

Sasaran Terapi

Anak – anak berkebutuhan khusus yang memerlukan terapi ABA / terapi perilaku adalah :

-  Autism Spectrum Disorder

  • High Function
  • Low Function

-  Disleksia

 

IV. Terapi Biomedis

Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN (Defeat Autism Now). Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak.

Yang dimaksud dengan terapi biomedik adalah mencari semua gangguan tersebut diatas dan bila ditemukan, maka harus diperbaiki , dengan demikian diharapkan bahwa fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala-gejala autisme berkurang atau bahkan menghilang.

Pemeriksaan yang dilakukan biasanya adalah pemeriksaan laboratorik yang meliputi pemeriksaan darah, urin, rambut dan feses. Juga pemeriksaan colonoscopy dilakukan bila ada indikasi.

Tujuan Terapi

Terapi biomedik tidak menggantikan terapi-terapi yang telah ada, seperti terapi perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi terapi yang telah ada dengan memperbaiki “dari dalam”. Dengan demikian diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi. Terapi Biomedis diberikan oleh Dr.Anak sesuai dengan hasil laboratorium yang didapat.

Sasaran Terapi

Anak – anak berkebutuhan khusus yang memerlukan terapi ABA / terapi perilaku adalah :

-  Autism Spectrum Disorder

  • High Function
  • Low Function

 

V. Musik Relaksasi

Musik terapi awal mulanya berasal dari Palestina dan kemudian masuk ke negara Turki, namun pada perkembangannya justru musik terapi dikembangkan oleh gereja-gereja Romawi. Terapi musik dapat diterapkan pada anak berkebutuhan khusus dengan berbagai cara, akan tetapi hasil yang diperoleh sangat beragam sesuai dengan kondisi yang dialami anak.

Karena banyak hal dari segi bahasa dan komunikasi yang ditantang dalam proses interaksi. Sifat musik yang lembut, musik yang tidak terlalu tinggi nadanya dan selaras adalah sesuatu yang tidak mengancam bagi pendengarannya.

Terapi musik relaksasi secara umum merupakan suatu terapi dengan mendengarkan berbagai macam bunyi kepada anak berkebutuhan khusus. Bunyi atau musik yang diperdengarkan dapat merangsang perkembangan fungsi bahasa verbal / non verbal.

Musik memberikan perasaan tenang kepada anak, musik dapat memenuhi kebutuhan alami seorang anak untuk menjalin interaksi sosial dengan orang lain, dapat juga meningkatkan kontak mata dengan orang lain. Metode dengan terapi musik dapat meningkatkan keterampilan bahasa pada anak autis, karena nantinya keterampilan berbahasa ini dapat mempengaruhi baik tidaknya prognosis anak autis.

Selain itu terapi musik juga dapat membantu mengembangkan potensi atau bakat seorang anak autis khususnya dibidang seni.

Tujuan Terapi

Musik relaksasi merupakan salah satu program yang diberikan kepada anak – anak berkebutuhan khusus salah satunya autisme. Terapi musik dapat membantu kepekaan fungsi kognitif, afektif dan psikomotor anak–anak kebutuhan khusus. Seperti terapi lainnya terapi musik diberikan sama halnya dengan terapi yang lain, terapi musik harus diberikan secara berkesinambungan kepada anak autis.

Fungsi Musik sebagai terapi,  regulasi emosi, nalar, fisiologis, mediasi self, other representasi simbolis, kordinasi gerak (clayton, 2009). Ekspresi emosi, estetik, hiburan, komunikasi, representasi simbolis, respon fisik, konformitas, ritual religi, stabilitas budaya dan integrasi sosial (Merriam, 1964).

Sasaran Terapi

Anak – anak berkebutuhan khusus yang memerlukan terapi musik/musik relaksasi adalah :

-  Autism Spectrum Disorder

  • High Function
  • Low Function

 

VI. Fisioterapi

Menurut Departemen Kesehatan Indonesia Fisioterapi adalah suatu  pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk individu dan atau kelompok dalam upaya mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan modalitas fisik, agen fisik, mekanis, gerak dan komunikasi.

Fisioterapi merupakan ilmu yang menitik beratkan untuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat gerak/fungsi tubuh yang terganggu yang kemudian diikuti dengan proses/metode terapi gerak. Melibatkan otot-otot besar (otot-otot penegak tubuh, otot batang tubuh, otot perut, otot tungkai, dsb).

Tujuan Terapi

Tujuan Fisioterapi antara lain:

  • Memberi pelayanan yang paripurna, efektif dan efisien kepada semua orang yang memerlukan pelayanan kesehatan kapasitas kemampuan fungsional fisik sehingga dapat mencapai tujuan program fisioterapi.
  • Memberi kesempatan kepada semua fisioterapis untuk mengembangkan tingkat kemampuan profesionalnya.
  • Melibatkan pasien/klien dalam perencanaan dan pelaksanaan pelayanan fisioterapi. Keterlibatan keluarga dan masyarakat lingkungannya perlu diperhitungkan dalam upaya mencapai tujuan program fisioterapi àhome program dirumah.
  • Memelihara hubungan kerja yang baik dengan semua anggota tim kesehatan terkaità team work
  • Menciptakan iklim yang menunjang proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan/ bimbingan bagi perkembangan para calon fisioterapis.

Sasaran Terapi

Untuk semua orang yang mengalami gangguan gerak dan fungsi tubuh. Bidang Intervensi Fisioterapi :

  • Pediatricà Cerebral Palsy, Down Syndrome, Delay development
  • Muskulosketalà berhubungan dengan otot dan tulang serta jaringan lunak yang ada di dalam tubuh. Contoh: nyeri pinggang, rematik dsb.
  • Neuromuskularà Berhubungan dengan gangguan syaraf dan otot Contoh:Stroke, Parkinsosn, GBS.
  • Cardiopulmonalà Berhubungan dengan gangguan jantung dan paru Contoh : asma, bronhitis, jantung, dsb.
  • Geriatrià fisioterapi untuk lanjut usia (penurunan kordinasi dan keseimbangan tubuh, nyeri pinggang, senam lansia, parkinson)
  • Obsgynà Berhubungan dengan kesehatan reproduksi. Contoh : senam hamil, kesuburan à harus mendapat rujukan dari dokter.

 

VII. Brain Gym

Brain Gym adalah serangkaian gerak sederhana yang menyenangkan dan salah satu kegunaannya adalah untuk meningkatkan kemampuan belajar anak-anak  dengan menggunakan keseluruhan otak. Adalah Paul E. Dennison, Ph.D, seorang pendidik dari California yang telah melakukan penelitiannya selama 19 tahun. Dennis menciptakan proses Edu-Kinestetics dan Brain Gym, dan perintis penyeledikan otak. Penemuannya didasarkan atas pengetahuannya mengenai hubungan yang sangat erat antara perkembangan fisik, pemahaman bahasa, kemahiran berkomunikasi, dan prestasi akademik. Pemahaman Dennison tentang penelitian ini, terutama menyangkut anak-anak dengan masalah khusus dalam kemampuan bicara, mendorongnya untuk menciptakan gerakan-gerakan Brain Gym yang sederhana, mudah, dan sesuai tugasnya, yang akan bermanfaat bagi semua pelajar.

Selama lebih dari 50 tahun para perintis latihan behavioral optometry and sensorimotor sudah mengeluarkan statistik penelitian tentang pengaruh gerakan terhadap belajar.  Otak manusia seperti hologram,terdiri dari tiga dimensi dengan bagian-bagian yang saling berhubungan sebagai satu kesatuan. Namun demikian, otak manusia juga spesifik tugasnya, yang untuk aplikasi gerakan Brain Gym dipakai istilah Dimensi Lateralitas untuk belahan otak kiri dan kanan, Dimensi Pemfokusan untuk bagian belakang otak (batang otak atau brainstem) dan bagian depan otak (frontal lobes), serta Dimensi Pemusatan untuk sistem limbic (midbrain) dan otak besar (cerebral cortex).   Gerakan Brain Gym dapat membantu banyak orang, muda atau tua, untuk mengoptimalkan kemampuan belajar mereka dan paling efektif apabila dilakukan setelah Pembaruan Pola Lateralitas  (Dennison Laterality Repatterning).

Sumber: Dennison, Paul, Ph.D. Panduan lengkap: brain gym senam otak. Jakarta: PT. Gramedia. 2009


Untuk informasi lebih lanjut mengenai PSNC beserta layanan yang disediakan, silakan hubungi kami disini atau hubungi langsung ke

Mrs. Finandita Utari, M.Psi, psikolog.

Manager PICC
Hp. 0819 3339 9996
Telp. 021 8911 3678
Email. admin@presidenttherapycenter.com